Sabtu, 03 Agustus 2013

TURUNKAN HIPERTENSI DENGAN BEKAM



Saat ini ada kecendrungan bahwa masyarakat perkotaan lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan dengan rakyat pedesaan. Hal ini dipengaruhi gaya hidup masyarakat kota seperti sedikitnya aktivitas tubuh, stres, konsumsi garam berlebih, obesitas, kurang olahraga, merokok, alkohol dan makanan yang tidak sehat.

Angka kejadian hipertensi di dunia cukuplah tinggi. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) pada tahun 2007 saja, jumlah keseluruhan kasus hipertensi di Indonesia mencapai 31,7 % dari populasi penduduk yang berusia 18 tahun ke atas. Sementara 60% dari persentase tersebut berujung stroke, gangguan jantung, gagal ginjal dan kebutaan.

Seseorang dikatakan menderita hipertensi ketika terjadinya peningkatan tekanan ke atas pembuluh darah arteri akibat tekanan jantung (sistolik) dan atau tekanan saat jantung beristirahat diantara pompaan (diastolik) yang tidak normal. Umumnya dikatakan hipertensi jika tekanan sistolik melebihi 160/mmHg dan tekanan diastolik melebih 95 mmHg serta terjadi terus menerus.

Hipertensi bukanlah penyakit, melainkan tanda dan gejala saja. Artinya ada masalah kesehatan yang belum ditemukan dalam diri pasien yang menyebabkan kerja jantung menjadi terganggu, misalnya ginjalnya bermasalah, jantung atau pembuluh darahnya mengalami pengapuran atau bahkan ada masalah psikologis yang belum tuntas sehingga itu semua menyebabkan meningkatnya frekuensi sistole dan diastole.

Secara medis hipertensi dibagi atas hipertensi primer dn sekunder. 90% kasus hipertensi adalah jenis primer, yang mana belum diketahui penyebabnya dengan jelas secara medis. Sementara sisanya, yaitu hipertensi sekunder yang terjadi akibat ginjal yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya dan terganggunya keseimbangan hormon yang mengatur tekanan darah.

Adapun gejala umum hipertensi dapat meliputi sakit kepala, rasa pegal dan tidak nyaman pada tengkuk, perasaan berputar seperti akan terjatuh, berdebar-debar, nadi terasa cepat dan telinga berdenging. Akibat kompleksitas permasalahan hipertensi ini, apabila tidak dilakukan pengobatan secara tuntas dapat menimbulkan stroke, jantung koroner, gagal ginjal dan lainnya.

Pada teorinya, beberapa kondisi tertentu dapat menunjukkan bagaimana terjadinya proses yang membawa sesorang menjadi penderita hipertensi dan mengalami permasalahan pada pembuluh darah lainnya. Misalnya, apabila di dalam tubuh terbentuk oksigen reaktif yang kemudian merubah lipid menjadi lipid proksida setelah bereaksi dengan radikal bebas, maka akibatnya adalah percepatan proses penuaan, termasuk di dinding pembuluh darah. Selain itu oksigen reaktif dapat meningkatkan kadar LDL (low density lipoprotein) yang kemudian menjadi penyebab penimbunan kolesterol pada dinding pembuluh darah. Dampak dari penimbunan kolesterol tersebut adalah terjadinya artherosklerosis atau lebih dikenal dengan penyakit jantung koroner.

Kemudian akibat proses kerusakan dinding pembuluh darah, dinding terdalam pada pembuluh darah mengalami pengerasan yang diikuti oleh penumpukan kolagen dan kalsium, sehingga dinding arteri menjadi kaku. Akibat arteri tidak elastis dan fleksibel, maka beban jantung meningkat. Kemudian apabila terjadi stress emosional dapat semakin memperparah keadaan, karena dapat meningkatnya kadar kolesterol dan trombosit, memperpendek waktu pembekuan darah serta terjadinya tekanan darah yang tinggi secara menetap.

Pada penderita hipertensi juga seringkali ditemukan darah rusak yang berupa darah merah pekat dan berbuih karena dampak perusakan oleh radikal bebas dan zat yang mengotori darah. Darah rusak yang terlihat dari hasil pembekaman adalah darah yang mengandung sisa metabolisme yang menyumbat peredaran darah. Darah rusak cendrung mengakibatkan sistem peredaran darah dalam tubuh tidak berjalan lancar. Akibat penumpukan darah rusak maka kesehatan seseorang datap terganggu, baik secara fisik maupun mental. Sementara itu racun dapat mengotori darah melalui empat pintu :

Pertama, melalui makanan yang mengandung pestisida, insektisida, fungisida, zat pewarna, penyedap makanan, hormon dan logam berat. Kedua, yaitu melalui minuman, seperti zat pewarna, zat aroma esens, logam berat, baha kimia dan lain-lain. Ketiga, melalui pernapasan, seperti asap kendaraan, asap pabrik, asap rokok dan sebagainya. Keempat, melalui obat-obatan yang berupa antibiotik, analgesik, antipiretik dan sebagainya.

Racun yang masuk melalui empat pintu ke dalam tubuh manusia kemudian merusak darah, lalu darah menumpuk dibawah kulit. Jika darah rusak tersebut tidak dikeluarkan, maka tubuh akan melemah dan terserang penyakit. Uniknya, hasil penelitian menunjukkan bahwa bekam ternyata hanya mengambil bagian darah yang rusak saja, sedangkan darah bersih, sel darah putih dan zat-zat penting lainnya tidak ikut terusik. Selain itu berdasarkan penelitian, bekam meningkatkan kelenturan sel darah merah dan mempercepat regenerasi eritrosit.

Adapun mekanisme regenerasi sel eritrosit akibat pembekaman adalah akibat terjadinya pengeluaran darah dari tubuh kemudian merangsang hepar dan darah untuk melakukan detoksifikasi dan selanjutnya terjadilah rangsangan pada sumsum tulang untuk segera menghasilkan sel eritrosit baru. Sel eritrosit yang baru terbentuk tentunya berada dalam kondisi baik, sehigga akhirnya dapat menjalankan fungsinya secara optimal mulai dari tingkat sel hingga sistem organ. Beberapa penelitian terdahulu yang telah menyatakan efektifitas bekam bagi penderita hipertensi kemudian dikuatkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Wahyudi Widada, S.Kp, M. Ked yang bekerja sama dengan Puskesmas Sumbersari, Jember dengan rentang waktu selama 5 bulan.

Adapun penelitian dilakukan pada sampel penelitian yang telah ditentukan, yaitu meliputi laki-laki yang berusia antara 40 sampai 60 tahun dan menderita hipertensi, yaitu tekanan darah antara sistole (140 – 180 mmHg) dan diastole (90 – 110 mmHg). Sampel juga diharuskan tidak sedang menjalani pengobatan hipertensi. Sampel telah dipilih kemudian dilakukan pengukuran tekanan darah, kemudian masing-masing sampel dilakukan pembekaman di tujuh area di punggung selama 30 menit. Setelah satu jam, populasi sampel diukur kembali tekanan darahnya dan hasilnya dikalkulasi serta dianalisa melalui metode statistik dengan uji t-dependen (paired t-test).

Pada data hasil penelitian tersebut didapat rata-rata tekanan darah sebelum dibekam 150,90/96,83 mmHg dan setelah dibekam menjadi 136,07/90,17 mmHg. Bila mengacu pada kriteria hipertensi yaitu 140/95 mmHg maka jelaslah tekanan darah baik sistole maupun diastole menunjukkan perubahan yang bermakna. Oleh karenanya bekam dianjurkan sebagai pengobatan non farmakologis bagi penderita hipertensi.

Disarankan juga bagi penderita hipertensi untuk melakukan olah raga seperti berjalan kaki atau berjalan cepat, mengapa? Olah raga diketahui dapat memanipulasi pelepasan endorphin. Sementara endorphin dapat berfungsi untuk memblok rasa sakit yang tidak perlu. Selain itu telah terbukti bahwa olah raga dapat memperbaiki sirkulasi, melemaskan otot-otot dan memudahkan tidur nyenyak. Dengan demikian, tubuh menjadi resisten terhadap rasa sakit, serta mampu bertahan dari kelelahan dan sakit kepala yang disebabkan ketegangan.

Jumat, 02 Agustus 2013

PENGARUH BEKAM BAGI PENDERITA ASMA






  
Asthma terjadi akibat reaksi berlebihan terhadap alergen (zat asing penyebab alergi) yang ditandai oleh penyempitan bronkus, sesak napas hebat dan mendadak, kemudian diikuti oleh gejala-gejala seperti, wheezing (bunyi ngik-ngik), lelah, gangguan kesadaran, kulit membiru, perubahan tekanan darah dan bekerjanya otot bantu pernapasan.

Seorang yang mengalami alergi mempunyai kecendrungan untuk membentuk antibodi Ig E (Immunoglobin E) dalam jumlah yang tak normal, dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila bereaksi dengan antigen spesifiknya. Pada kondisi asma, antibodi ini terutama melekat di sel mast interstisial paru yang terkait erat dengan bronkiolus dan bronkus kecil.

Bila seseorang menghirup alergen maka antibodi Ig E orang tersebut meningkat. Setelahnya, antibodi yang telah melekat pada sel mast akan bereaksi dengan alergen, sehingga menyebabkan sel ini mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin, faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. Efek gabungan dari semua faktor-faktor ini menyebabkan udema (bengkak) lokal pada dinding bronkiolus kecil, pelepasan mukus (lendir) yang kental dalam lubang bronkiolus dan spasme otot polos bronkiolus, akibatnya ketegangan saluran napas pun meningkat.

Sementara bekam dapat memperbaiki mikrosirkulasi dan fungsi sel dengan cepat. Berdasarkan beberapa penelitian, bekam dapat meningkatkan kemampuan peremajaan eritrosit. Terapi bekam yang dilakukan secara teratur di duga kuat dapat merangsang kekebalan seluler, sehingga daya tahan tubuh meningkat.

Pembekaman mengakibatkan bendungan lokal, perangsangan titik meridian, hipoksia dan radang, hal inilah yang dapat memperbaiki mikrosirkulasi dan fungsi sel dengan cepat. Lima hari setelah pembekaman tebukti akan meningkatkan kelenturan dinding sel darah merah, merangsang kerja sistem kekebalan tubuh, yang meliputi sel limfosit T CD8+, makrofag, dan sel pembunuh alami, maka hasil akhirnya adalah terjadinya peningkatan daya tahan tubuh. Mekanisme peningkatan daya tahan tubuh tersebut akan sama, baik bekam dilakukan sebagai pencegahan maupun pengobatan terhadap penyakit.

Di sisi lain makrofag menghasilkan sitokin dalam jumlah yang berlebihan, sehingga makrofag merupakan sel efektor penting pada kekebalan yang diperantarai oleh sel, misalnya hipersensitivitas tipe lambat. Sitokin ini tidak hanya mempengaruhi sel T dan sel B, tetapi juga mempengaruhi jenis sel lain seperti sel endotel dan fibrolas.

Makrofag bekerja untuk melumpuhkan dan akhirnya membunuh mikroba yang diikat oleh antibodi dan/atau komplemen, oleh karena itu makrofag merupakan unsur pemberi pengaruh yang penting pada kekebalan humoral dan seluler.

Adapun mekanisme pada kerusakan jaringan, sama dengan mekanisme yang digunakan oleh sel T untuk menyingkirkan sel yang berkaitan dengan mikroba. Sel T CD4+ bereaksi terhadap antigen pada sel atau jaringan, lalu terjadi pelepasan sitokin yang memicu inflamasi dan aktivasi makrofag. Kerusakan jaringan disebabkan oleh pelepasan sitokin dari makrofag dan sel-sel inflamasi yang lain. Sel T CD8+ dapat menghancurkan sel yang berkaitan dengan antigen asing.

Pada banyak penyakit auto kekebalan yang diperantarai oleh sel T, terdapat sel T CD4+ dan sel T CD8+ yang spesifik untuk antigen diri, dan keduanya berperan pada kerusakan jaringan. Bukti secara eksperimental menunjukkan bahwa pertahanan anti mikobakteri adalah makrofag dan limfosit T.

Sel fagosit mononuklear atau makrofag berperan sebagai pemberi pengaruh utama sedangkan limfosit T sebagai pendukung proteksi atau kekebalan. Makrofag bertugas melumpuhkan dan akhirnya membunuh mikroba yang diikat oleh antibodi dan/atau komplemen, oleh karena itu makrofag merupakan unsur pemberi pengaruh yang penting pada kekebalan humoral dan seluler.

Pada sistem kekebalan, sel darah putih bergerak sebagai organisme selular bebas dan merupakan lengan kedua sistem kekebalan bawaan. Sel darah putih bawaan termasuk fagosit makrofag, neutrofil, dan sel dendritik, sel mast, eosinofil, basofil dan sel pembunuh alami. Sel tersebut mengenali dan membunuh patogen dengan menyerang patogen yang lebih besar melalui kontak atau dengan menelan lalu membunuh mikroorganisme tersebut. Sel bawaan juga merupakan mediator penting pada aktivitas sistem kekebalan adaptif.



Berdasarkan mekanisme yang telah dijabarkan, ditambah dengan adanya kenyataan secara statistik, bekam terbukti meningkatkan sel limfosit T pembunuh, maka terapi bekam untuk serangan asma adalah sangat tepat dan rasional.

Berkaitan dengan fungsi bekam pada kasus asma, maka terdapat dua tujuan pembekaman terhadap pasien asma. Pertama, meningkatkan dan memperbaiki imunitas. Adapun area pembekamannya pada titik kahil, katifain dan akhda’ain atau semua titik di tengkuk dan punggung. Dengan demikian, diharapkan sistem imun dan reaksi radang dapat diperbaiki dan dioptimalkan.

Kedua, yaitu bertujuan untuk memperbaiki sistem organ paru dan saluran napas. Area pembekamannya adalah satu jari dari dibawah tulang selangka (klavikula) kiri kanan, tiga jari dari tulang dada setinggi puting susu kiri dan kanan serta di ulu hati. Dengan ini, diharapkan bronkus dan bronkiolus yang menyempit, serta cairan di saluran pernapasan mendapat reaksi langsung akibat pembekaman.

Reaksi sistem imun yang terjadi di dalam tubuh amat sangat komplek. Maka seharusnya terapis dan pasiennya selain berikhtiyar dengan bekam, harus juga bertawakkal dan menyandarkan kesembuhan hanya kepada Allah Swt. (tb – Wahyudi Widada, S.Kp, M.Ked)

Kamis, 01 Agustus 2013

BEKAM UNTUK NGOMPOL

NOCTURNAL ENURESIS
(Ngompol)

Gambar


Anak-anak mulai bias mengendalikan buang air kecil pada usia dua atau tiga tahun. Anak laki-laki umumnya lebih lambat dalam kemampuan mengendalikan buang air kecil dibandingkan dengan anak perempuan.

Definisi Nocturnal Enuresis
Nocturnal Enuresis adalah ketidakmampuan untuk mengendalikan buang air kecil setelah berusia lebih dari lima tahun. Setidaknya, anak mengalami nocturnal enuresis (ngompol) dua kali dalam sepekan selam tiga bulan bertuurt-turut.

Penyebab Nocturnal Enuresis
Inilah beberapa penyebab terjadinya nocturnal enuresis :
  1. Radang saluran kencing (urethritis) dan radang kandung kemih.
  2. Infeksi saluran kencing (urinary tract infections).
  3. Penyakit kencing manis, baik tipe 1 (diabetes insipidous) maupun tipe 2 (diabetes mellitus).
  4. Anemia sel sabit (sickle cell anemia).
  5. Penyakit-penyakit yang disertai gangguan kejang (seizures disorders).
  6. Kandung kemih neurogenik (neurogenic bladder).
  7. Gangguan pada saluran genita (genital tract disorders).
  8. Keterlambatan perkembangan saraf pengendali di kandung kemih.
  9. Keterlambatan perkembangan saraf tubu secara umum (seperti pada kasus retardasi mental).
  10. Ukuran kandung kemih yang terlalu kecil.
  11. Sembelit
  12. Penyakit-penyakit psikis : kecemasan dan ketakutan.
Efek Bekam terhadap Nocturnal Enuresis
  1. Bekam menstimulasi sirkulasi darah dibawah kawasan kandung kemih sehingga mengurangi terjadinya peradangan pada saluran kencing dan kandung kemih.
  2. Bekam menstimulasi sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan jumlah sel darah putih yang berperan melawan bakteri penyebab peradangan di sistem urinary atau sistem genital.
  3. Bekam mengatur sinyal-sinyal  saraf dalam sistem saraf parasimpatik yang mengendalikan pengeluaran kandung kemih.
  4. Bekam berperan meningkatkan pertumbuhan saraf dan membantu saraf-saraf yang menuju kandung kemih untuk mencapai kematangan yang cukup untuk mengendalikan proses buang air kecil. Ia juga berperan meningkatkan kematangan sistem saraf di dalam tubuh secara keseluruhan.
  5. Bekam mengatasi kejang yang kadang-kadang menyebabkan terjadinya nocturnal enuresis, sebagaimana juga membantu menyembuhkan penderita sakit kencing manis yang menjadi penyebab nocturnal enuresis.
Catatan
  1. Anak harus dilatih sejak kecil tentang cara menggunakan kamar mandi. Sebab, kadang-kadang nocturnal enuresis disebabkan oleh kurangnya pembiasaan buang air kecil di kamar mandi.
  2. Harus dihindari terjadinya masalah-masalah psikis yang menyebabkan anak ngompol. Hindari membentak dan memukul anak, jika ia ngompol.
  3. Jagalah perasaan anak. Jangan berbicara tentang problem ngompol ini dihadapan orang lain sehingga menyakiti perasaannya.
  4. Doronglah anak untuk berusaha mengendalikan buang air kecil, dengan member hadiah.
  5. Cegahlah anak yang menderita nocturnal enuresis dari mengonsumi makanan panas atau acar (makanan bercuka) karena akan memperparah kondisi ini. Laranglah pula anak meminum teh, kopi dan minuman-minuman lain yang bersifat diuretic (meningkatkan pengeluaran kencing).
  6. Hindarkan penderita nocturnal enoresis dari minuman, terutama pada sore hari.
  7. Ibu harus mendorong anaknya untuk pergi ke kamar mandi tepat sebelum tidur, serta membangunkannya di malam hari untuk buang air kecil.
Eksperimen dan Hasil Terapi

Hasil terapi bekam untuk kasus nocturnal enuresis “sangat bagus”, kadang-kadang perlu dilakukan terapi hingga enam kali.

Sumber : Al-Usus Al-‘Ilmiyah lil Mu’jizah An-Nabawiyyah Al-Hijamah (Dr. Ahmad Razak Sharaf)

Rabu, 31 Juli 2013

TANYA JAWAB TENTANG BEKAM (AL HIJAMAH)




Bismillah,
Bagi anda yang berkeinginan kuat untuk berbekam (hijamah/ODT), dan baru pertama kali melakukannya terkadang ada beberapa hal mengganjal yang ingin ditanyakan, diantaranya adalah sebagai berikut :

PERSIAPAN
Tidak ada persiapan khusus jika anda ingin di Bekam, artinya kapan saja anda dibekam maka tidak menjadi masalah, Akan tetapi untuk dan mengurangi efek samping maka disarankan anda makan 3-4 jam sebelum di bekam, karena jika perut anda kosong (puasa) terkadang menyebabkan pusing/lemas.
Sebaliknya apabila anda dalam kondisi perut penuh makanan atau hanya berselang 1 jam setelah makan kemudian anda dibekam maka beberapa pasien mengeluh mual atau muntah. Hindari berjima’ sebelum bekam, apalagi sesudahnya karena akan menguras banyak energi.

SOAL 1. Saya sedang hamil, bolehkah dibekam ?
Boleh, jika kondisi umumnya baik. Sebelum dibekam harus diperiksa dulu tekanan darah dan keadaan umum lainnya, jika normal maka tidak ada masalah. Yang perlu diperhatikan adalah menghindari pembekaman di daerah perut dan pinggang. Untuk Ibu menyusui, wanita haidh dan menstruasi  juga diperbolehkan berbekam asal kondisi umumnya cukup baik .
SOAL 2.  Orang tua saya sudah “sepuh” apa juga boleh dibekam? Bagaimana dengan anak kecil?
Orang yang sudah lanjut usia dan anak kecil (diatas 4 tahun) tidak mengapa dibekam asalkan dilakukan secara bertahap, dengan sedikit sayatan tipis, menggunakan jumlah kop yang sedikit serta dengan kekuatan pompa yang minimal.

SOAL 3.  Kondisi apa yang merupakan “pantangan” (kontraindikasi) bekam ?
Ada kontraindikasi yang bersifat absolut dan ada yang bersifat relatif.
Kontraindikasi absolut, adalah kondisi/kelainan penyakit tertentu yang dilarang untuk dilakukan bekam, diantaranya adalah : pasien yang berumur dibawah 4 tahun, pasien yang sedang mengkonsumsi obat pengencer darah, pasien yang mengalami gangguan sistim pembekuan darah yang berat, koma (tidak sadar), dehidrasi berat, renjatan/syok, pasien yang baru menjalani transfusi darah, donor darah atau cuci darah (kurang dari 48 jam dari waktu bekam), penderita jantung yang menggunakan alat bantu pengatur detak jantung.
Kontraindikasi relatif, adalah kondisi/kelainan penyakit tertentu yang disarankan untuk tidak bekam terkecuali dilakukan oleh ahli bekam professional yang sudah berpengalaman, diantaranya adalah : pasien anemia, pasien kencing manis dengan kadar gula darah sewaktu lebih dari 300, pasien tumor/kanker, hipertensi dengan systole lebih dari 200mmHg, penderita gagal jantung (Decomp. Cordis) yang berat, pasien kesurupan (terkena sihir), penderita phobia berat terhadap peralatan medis dan wanita hamil,haidh, nifas atau menyusui.

WAKTU BEKAM
SOAL 4.  Apakah harus memilih hari tertentu dan tanggal tertentu (tanggal 17,19 dan 21) agar lebih utama dilakukan bekam ?
Tidak, karena hadits mengenai keutamaan hari dan tanggal tertentu  untuk beerbekam adalah hadits dhoif (lemah) sehingga tidak bisa dijadikan dalil. Begitu juga larangan membekam pada hari tertentu (Rabu, Jum’at, Sabtu) juga tidak memiliki dasar yang kuat.

SOAL 5.  Apakah ada perbedaan dibekam pada waktu pagi, siang, sore atau malam hari ?
Sebenarnya tidak ada perbedaan yang mencolok, kapan saja bisa dilakukan bekam. Hanya saja jika dilakukan pada saat sinar matahari terik (tengah hari) lebih memudahkan untuk mengeluarkan darah.
EFEK SAMPING
Perlu kita ketahui dulu sebalumnya bahwa setiap tindakan medis apapun bentuknyatetap memiliki risiko dan efek samping. Akan tetapi hal tersebut tidaklah menjadikan kita “urung” untuk melaksanakan “Sunnah hijamah (Bekam)”  yang mulia ini, asalkan dilakukan sesuai standar dan dilakukan oleh ahli yang professional maka tindakan tersebut sangatlah aman.
Tidaklah mungkin Allah Ta’ala dan Rosul-Nya menuntunkan amalan hijamah ini jikalau berisiko tinggi bagi ummatnya, justeru yang sudah terbukti adalah manfaat dan faedah yang luar biasa.
SOAL 6.  Apakah dibekam itu terasa “SAKIT” ?
Tidak, karena sebelumnya dilakukan dulu penyedotan dengan kop bekam (disebut Bekam Kering) yang berfungsi untuk menarik “darah kotor” ke bawah permukaan kulit sehingga kulit akan terasa menjadi tebal dan “baal” sehingga ketika dilakukan sayatan tipis maka sudah tidak terasa sakit lagi, hanya seperti digigit semut.
Bekam kering tadi juga sekaligus berfungsi mengeluarkan kelebihan “unsur angin” dari tubuh dan menimbulkan efek “massage” untuk melenturkan otot-otot yang mengalami kekakuan.

SOAL 7.  Setelah dibekam, saya malah mengeluh badan terasa sakit (pegal-pegal) apakah ada yang salah ?
Hanya sedikit pasien yang mengeluhkan hal tersebut. Hal ini terjadi sebagai rekasi sistim imun tubuh untuk berusaha mengembalikan fungsi-fungsi tubuh agar menjadi normal kembali karena “sumber darah kotornya”  sudah dikeluarkan. Dalam 3-4 hari keluhan tersebut umumnya sudah hilang dan tubuh menjadi bugar.
Beberapa pasien mengatakan “mengantuk” dan ada juga yang “merasa lapar” setelah bekam, hal tersebut wajar dan justeru lebih baik.

SOAL 8.  Saya mengikuti bekam masal, setelah itu badan saya “meriang” apakah saya mengalami infeksi?
Saya tidak menyarankan untuk mengikuti Bekam Masal karena penggunaan alat bekam berulang kali tanpa proses sterilisasi yang sesuai standar bisa menjadi sumber penularan penyakit tertentu. Keluhan “meriang” bisa merupakan tanda infeksi apabila luka bekas sayatan Bekam mengalami pembengkakan (oedem), berwarna merah, keluar cairan seperti nanah (pus), dan jika dipegang terasa hangat.
Apabila “meriang” tersebut tanpa disertai tanda-tanda tadi maka hal tersebut memang kadang terjadi dan normal adanya dan dalam 3-4 hari keluhan tersebut umumnya sudah hilang dan tubuh menjadi lebih ringan dan nyaman.Begitu juga dengan keluhan perih pada bekas sayatan akan hilang sendirinya hingga sekitar 12 jam.

SOAL 9.  Keluar cairan seperti “lepuhan cacar” setelah bekam apakah berbahaya ?
Gelembung cairan tersebut merupakan transudat yang umumnya terjadi akibat proses penyedotan yang terlalu lama (lebih dari 15 menit). Dalam Ilmu kedokteran China dikatakan bahwa adanya blister (lepuhan/lecat) pada bekas bekam menggambarkan kondisi gangguan gas yang parah pada tubuh. Adanya darah tipis pada blister merupakan reaksi gas panas toksin.
Gelembung tersebut tidaklah berbahaya dan cukup mengeluarkannya dengan menggunakan ujung pisau bedah steril kemudian diolesi dengan minyak habbatussauda (jinten hitam). Jangan sekali-kali menusuknya dengan jarum atau peniti dan sejenisnya karena dapat menimbulkan infeksi.

SOAL 10.  Bekas bekam di kulit meninggalkan lebam berwarna merah muda, ungu hitam, dan ada juga yang tidak berubah sama sekali, kenapa hal tersebut bisa terjadi?
Umumnya bekas bekam akan hilang dalam waktu 3 hari sampai 1 minggu setelah bekam tergantung bentuk dan warna yang ditinggalkan. Reaksi pigmen pada kulit bekas bekam adalah sebagai berikut :
  • Ungu kegelapan atau hitam, pada umumnya hal ini mengindikasikan kondisi defisiensi (kekurangan) pasokan/suplai darah dan channel/saluran (pembuluh) darah yang tidak lancar yang disertai dengan keberadaan darah statis (darah beku).
  • Ungu disertai plaque (bercak-bercak), pada umumnya hal ini menandakan terjadinya gangguan/ kelainan gumpalan darah yang berwarna keunguan dan adanya darah statis (darah beku).
  • Bintik-bintik ungu yang tersebar dengan tingkatan warna yang berbeda(ada yang tua dan ada yang ungu muda). Hal ini menandakan kelainan “Qi” dan darah statis.
  • Merah cerah, biasanya hal ini menunjukkan terjadinya defisiensi “Yin”, defisiensi “Qi” dan darah atau rasa panas yang dahsyat yang diinduksi oleh defisiensi “Yin”.
  • Merah gelap, hal ini mengindikasikan kondisi lemak di dalam darah yang tinggi disertai dengan adanya panas patogen.
  • Agak pucat/putih dan tidak hangat ketika disentuh, hal ini mengindikasikan terjadinya defisiensi cold (dingin) dan adanya gas patogen.
  • Garis-garis pecah/ruam pada permukaan bekas bekam dan rasa sedikit gatal, hal ini mengindikasikan kondisi adanya wind (lembab) patogen dan gangguan gas patogen.
  • Munculnya uap air pada dinding bagian dalam gelas bekam, menandakan kondisi adanya gas-gas patogen pada daerah tersebut.
SETELAH BEKAM
SOAL 11.  Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan setelah Bekam ?
Istirahatlah secukupnya setelah berbekam, lebih baik lagi tidur. Minumlah air putih, madu, sari kurma atau teh manis untuk mempercepat pemulihan. JIia ingin makan, usahakan kurang lebih satu jam sesudahnya dan menghindari makan asam, pedas, mie dan minuman bersoda/berkarbonase. Hindari untuk melakukan jima’ setelah bekam.
SOAL 12.  Apa boleh mandi setelah Bekam ?
Boleh bahkan dianjurkan mandi setelah 2 jam melakukan bekam. Sebaiknya menggunakan air hangat untuk mempercepat proses pemulihan. Hindari untuk menggosok bekas sayatan bekam dengan sabun secara berlebihan karena selain terasa perih juga akan memperlambat proses penyembuhan luka.
SOAL 13.  Apa ada perawatan khusus rutin (dengan antiseptic, rivanol, dll) yang dilakukan setiap hari untuk luka bekas sayatan bekam?
Perawatan tersebut diatas dilakukan jika memang diperlukan. Alhamdulillah jika Bekam (Hijamah) dilakukan dengan benar maka hal tersebut belum diperlukan karena lukanya sangat tipis dan cepat sembuh dengan sendirinya.
Semoga Bermanfaat,
Baarokallaahu fiikum..

Sumber : http://bekammadura.wordpress.com/2013/07/16/tanya-jawab-tentang-bekam-al-hijamah/

BERENANG BIKIN NAFAS LENGANG







“Ajarilah anak-anakmu berenang, memanah dan menunggang kuda.”
-HR. Bukhari-Muslim-


Diantara terapi yang sering dianjurkan bagi penderita asma adalah berenang, pasalnya olah raga di air ini memberikan banyak manfaat, diantaranya relaksasi, meningkatkan kesehatan jantung & paru, membakar kalori. Selain itu sekitar 10 centimeter di atas air diyakini bergeraknya udara yang sangat baik, sehingga sangat bermanfaat bagi organ pernapasan. Untuk itu tidak sedikit atlet renang dunia yang mulanya adalah penderita asthma.

Mengapa renang dianggap olah raga terbaik baik bagi penderita asma? Karena kelembaban udara di atas permukaan air cukup tinggi (mencapai 94%). Dalam laman Klinik Asma dan Alergi dr. Indrajana dijelaskan bahwa kelembaban udara di atas permukaan air dapat mencegah penguapan (water loss) dari paru-paru. Adapun posisi tubuh saat berenang memungkinkan beban sirkulasi paru berkurang, dan tekanan di dalam air dapat mengontrol irama pernapasan. Renang dikenal olah raga non-grafitasi, walaupun air sendiri berada dalam pengaruh grafitasi yang menjadi sunnatullah. Sebab bila tanpa grafitasi air akan tumpah.

Tentunya penderita asma yang ingin berenang harus memperhatikan kemampuan dan kondisi. Bila belum mampu berenang layaknya orang sehat, bisa dimulai dengan bertahap jangan memaksakan diri. Selain berenang juga cukup bagus sering berjemur di pagi hari, terutama bagian punggung apalagi berjemur di lokasi dengan udara yang relatif segar dan bersih.

Gerakan renang secara umum mampu meningkatkan daya tahan tubuh dan memperbaiki saluran pernapasan, sehingga dengan rajin berenang napas pun menjadi lengang. Gerakan air yang menekan syaraf-syaraf tubuh dan bagian  saluran pernapasan juga mengusir berbagai faktor penyumbatan, sehingga pernapasan menjadi plong. Renang juga kegiatan menyenangkan, menghibur dan membangkitkan percaya diri.

Dengan melakukan renang akan melatih otot pernapasan mulai dari dada, perut, bahu dan pundak semuanya ikut bergerak sehingga memperbaiki kondisi pada penderita asma. Sebab sebagian besar penderita asma dipicu oleh lemahnya daya tahan tubuh dan udara kotor yang kering. Tetapi hal ini tidak terjadi saat berenang karena pernapasan terjadi di dekat permukaan air dengan udara yang baik dan lembab. Uap air membuat udara yang masuk tidak kering.

Renang yang dilakukan selama 3-5 kali seminggu dapat membantu meningkatkan kesehatan jantung dan paru-paru, apalagi dilakukan dengan baik dan benar. Pada saat renang yang ideal antara 1 – 2 jam tubuh mampu akan membakar sedikitnya 275 kalori/jam. Berenang juga diketahui bermanfaat membantu mempertahankan tekanan darah dan kolesterol yang berdampak pada kesehatan liver. Olah raga ini
juga untuk kesehatan paru-paru serta menghindarkan serangan jantung, stroke dan diabet.

Dari hasil penelitian yang di lakukan Mareta Isti Rosetya dan Hardian dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang terhadap 20 mahasiswa yang  berenang rutin dan yang tidak berenang selama 3 bulan. Kelompok yang mendapat latihan renang ternyata mengalami peningkatan Arus Puncak Ekspirasi, atau peningkatan fungsi organ paru-paru dan saluran napasnya dibanding mereka yang tidak berlatih renang.(Tb)