Tampilkan postingan dengan label Thibbun Nabawi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thibbun Nabawi. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Agustus 2013

4 LANGKAH PENGOBATAN NABAWI



Rasulullah Saw bersabda :

“Setiap penyakit ada obatnya”. (Shohih Muslim : 2204).
“Allah tidak menurunkan suatu penyakit, kecuali juga menurunkan obatnya”. (Shohihu l-Jami : 5558).
“……… Yang telah menurunkan penyakit, menurunkan kesembuhan dalam hal yang Dia kehendaki”. (Shohihu l-Jami : 1688).

Penyakit adalah satu fakta, sedangkan kesembuhan juga merupakan satu fakta. Tetapi, pendefinisian, identifikasi, dan pendeskripsian tentang jenis penyakit tersebut merupakan hal yang tidak pernah berakhir. Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda : “Sesungguhnya Allah itu Maha Baik, dan tidak menerima selain yang baik”. (Shohih Muslim : 1015).

Tidak ada satu perkara pun yang baik, kecuali Allah telah menjelaskan jalannya. Karena itu, Dia mengutus kepada kita, kekasih-Nya, Muhammad Saw, supaya beliau menerangi jalan kita dengan petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah, agar kita menjadi orang-orang yang memiliki ruh-ruh yang baik. Maka beliau shallallahu alaihi wasallam tidak membiarkan ada satu pun bidang kehidupanan dunia dan akhirat, kecuali beliau telah menjelaskan jalannya. Barangsiapa yang mengikuti jalan tersebut serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia memperoleh surga, adapun barangsiapa yang berpaling, sehingga termasuk orang-orang yang sesat serta bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan masuk neraka.

Nabi Muhammad Saw juga telah menyampaikan prinsip-prinsip yang kokoh dibidang pengobatan, sedangkan sabda beliau tidak lain merupakan wahyu yang diwahyukan.

Pada kesempatan kali ini, tulisan yang hadir di hadapan para pembaca sekalian  dan para terapis akan menjelaskan beberapa prinsip penting untuk mengidentifikasi penyakit dan menentukan resep pengobatannya :
1.    Langkah pertama : Memohon pertolongan dan bertawakkal kepada  Sang Maha Dokter dan Sang Maha Pemberi Kesembuhan, yaitu Allah Subhanahu Wa’ala.
2.    Langkah kedua : Mengidentifikasi penyakit dengan cara melihat gejala-gejalanya.
3.    Langkah ketiga : Mengetahui bahwa obat khusus itu lebih baik dibandingkan obat umum, contoh ; celak dan kam’ah merupakan obat mata yang lebih baik daripada madu.
4.    Langkah keempat : Menentukan obat yang paling tepat. Misalnya :
  1. Jika penyakit yang diderita bersifat psikis, merupakan gangguan jiwa, depresi dan sebagainya, maka resep pengobatannya adalah yang paling tepat adalah berdzikir, ibadah, sholat dan ruqyah.
  2. Jika penyakit yang diderita bersifat fisik (materi), maka pengobatannya dengan madu, jika penyakit tersebut menyangkut organ dalam seperti hati dan ginjal.
  3. Jika penyakit tersebut menyangkut organ luar seperti luka-luka dan terbakar, maka kita bisa mengoleskan madu atau minyak zaitun.
  4. Bisa dilakukan pembekaman untuk seluruh kasus penyakit, baik penyakit organ luar maupun organ dalam.
  5. Ruqyah, doa, sholat di sepertiga akhir malam, merupakan obat semua penyakit yang tidak bisa disembuhkan.
  6. Dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.


Sumber : Keajaiban thibbun nabawi-Aiman bin ‘Abdul Fattah.

Sabtu, 27 Juli 2013

Keajaiban Wudhu'

“Barang siapa berwudhu dengan sempurna maka dosa-dosanya akan keluar dari jasadnya hingga ke luar dari jaringan-jaringannya.”(HR Muslim) 

Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya, umatku akan dipanggil pada hari kiamat dalam kondisi putih bersinar karena bekas wudhu. Maka, barang siapa di antara kalian bisa memperpanjang putih sinarnya, hendaklah ia melakukan.”(HR Bukhari)
Ilmu pengetahuan modern telah menetapkan bahwa orang-orang yang selalu berwudhu, mayoritas hidup mereka senantiasa bersih dan terbebas dari bakteri. Ketetapan ini diambil setelah diadakan pemeriksaan melalui mikroskop terhadap ‘ladang’ bakteri pada sekelompok orang yang berwudhu secara teratur dan sekelompok orang yang jarang berwudhu.
 Hasilnya, orang yang rajin berwudhu  tubuhnya bersih dari ‘ladang’ bakteri. Sebaliknya, orang yang tidak pernah berwudhu terdapat bermacam ‘ladang’ bakteri pada anggota tubuhnya.

Sebagian besar diantaranya berupa bakteri bulat berkelompok dan sangat berbahaya. Jenis bakteri ini sangat cepat menyebar. Ia pun merupakan organisme yang menyebabkan banyak penyakit.
Selain itu, wudhu juga menghindari kita dari bahaya keracunan. Mengapa? Keracunan itu terjadi karena adanya pertumbuhan bakteri berbahaya di dalam lubang hidung.
 Dari lubang hidung ini, bakteri masuk ke dalam lambung dan usus sehingga menimbulkan radang dan berbagai penyakit, terutama bila bakteri itu telah masuk ke peredaran darah.

Oleh karena itu Islam mensyariatkan istinsyaq (menghirup air ke hidung dan mengeluarkannya) sebanyak tiga kali setiap wudhu.
Adapun syariat berkumur-kumur, telah terbukti bahwa itu dapat menjaga mulut dan tekak (saluran antara rongga mulut dan tenggorokan) dari berbagai macam radang, menghilangkan sisa-sisa makanan yang barangkali masih tersisa di dalam mulut. Telah terbukti secara ilmiah bahwa 90% dari  sekelmpok orang yang kini tidak memiliki gigi, seandainya dahulu mereka memperhatikan kebersihan mulut, mereka tidak akan kehilangan gigi sebelum masanya.
Jika mulut tidak dibersihkan maka materi bernanah dan sisa makanan yang busuk di mulut akan bercampur dengan air liur dan makanan. Lambung akan menghisapnya dan akan mengalir ke aliran darah. Darah akan meneruskannya ke seluruh anggota badan. Ini akan menyebabkan banyak penyakit.
Berkumur-kumur juga mampu melatih otot wajah sehingga terlihat lebih awet muda. Latihan seperti ini jarang sekali mendapatkan perhatian dari guru-guru olahraga. Mereka memfokuskan untuk melatih otot-otot besar saja. 

Membasuh Wajah, Dua Tangan Hingga Siku, dan Dua Telapak Kaki
Membasuh wajah, dua tangan hingga ke siku, dan dua telapak kaki memiliki manfaat dalam menghilangkan debu dan bakteri. Di samping itu, ia juga mampu membersihkan wajah dari kandungan lemak yang keluar dari kelenjar kulit dan keringat.
Penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa berbagai bakteri tidak akan menyerang kulit manusia, selama kebersihannya terjaga.
Apabila manusia dalam waktu lama tidak membasuh anggota tubuhnya maka lemak dan keringat yang keluar dari kulit akan menumpuk di permukaan kulit yang nantinya akan menyebabkan kulit menjadi sangat gatal. Gatal-gatal ini biasanya akan digaruk dengan jari tangan yang pada umumnya tidak dalam kondisi bersih.
Artinya, bakteri bisa masuk ke dalam kulit melalui garukan tersebut. Cairan-cairan yang menumpuk tersebut akan mengundang bakteri sehinga bertambah banyak dan berkembangbiak.
Ilmu patologi modern dan para ilmuwan terkemuka telah menemukan bahwa bakteri dan jamur akan menyerang kulit orang yang tidak memperhatikan kebersihan tubuhnya. Hal ini tentunya bisa dihindari dengan wudhu dan mandi.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Salim terungkap bahwa wudhu dengan cara yang baik dan benar akan mencegah seseorang dari berbagai penyakit. Muhammad Salim juga menganalisis masalah kesehatan hidung dari orang-orang yang tidak berwudhu dengan orang yang berwudhu secara teratur selama lima kali dalam sehari untuk mendirikan shalat.

Salim mengambil zat dalam hidung pada selaput lendir dan mengamati beberapa jenis kumannya. Berdasarkan analisisnya, lubang hidung orang-orang yang tidak berwudhu memudar dan berminyak, terdapat kotoran dan debu pada bagian dalam hidung, serta permukaannya tampak lengket dan berwarna gelap. Sedangkan orang-orang yang teratur dalam berwudhu, permukaan rongga hidungnya tampak cemerlang, bersih, dan tidak berdebu.
Mokhtar Salem dalam bukunya “Prayers a Sport for the Body and Soul” menjelaskan bahwa wudhu dapat mencegah kanker kulit. Jenis kanker ini banyak disebabkan oleh bahan-bahan kimia yang setiap hari menempel dan terserap oleh kulit. Apabila dibersihkan dengan air (terutama saat berwudhu), maka bahan kimia tersebut akan larut bersama air. Selain itu, wudhu juga dapat membuat seseorang menjadi tampak lebih muda.
Prof Leopold Werner von Ehrenfels, seorang psikiater dan neurolog asal Austria menyatakan bahwa wudhu mampu merangsang pusat saraf dalam tubuh manusia. Hal ini disebabkan karena  keselarasan air wudhu dan titik-titik saraf sehingga kondisi tubuh akan senantiasa sehat.

Salah satu pakar kesehatan yang melakukan kajian ilmiah tentang wudhu adalah Dr. Magomedov, asisten pada lembaga General Hygiene and Ecology (Kesehatan Umum dan Ekologi) di Daghestan State Medical Academy.
Menurut Dr.. Magomedov, wudhu dapat menstimulasi/ merangsang irama tubuh alam, khususnya pada area yang disebut Biological Active Sports (BASes) atau titik-titik aktif biologis. Menurut riset ini, BASes mirip dengan titik refleksologi Cina.
Kalau untuk mempelajari titik-titik refleksi Cina bisa diseleseikan dalam waktu 15-20 tahun, dengan Wudhu menurut Dr. Magomedov bisa diselesaikan dengan cepat dan sederhana. Dan, Keunggulan lainnya refleksi dengan Wudhu tidak hanya menyembuhkan penyakit, tetapi mencegah masuknya penyakit. 
Subhan Allah.

Sumber : kajianilmiah.com

Selasa, 23 Juli 2013

MENGOBATI SAKIT KEJANG-KEJANG



TERAPI SANG NABI

DALAM MENGOBATI SAKIT KEJANG-KEJANG



 
Abu Ubaidah menuturkan dalam Gharib al-Hadits (Hadits Gharib) dari Abu Utsman an-Nahdi. Ia menuturkan bahwa ada sekelompok orang yang melintasi sebuah pohon, kemudian mereka memakan buahnya. Sejurus kemudian, tubuh mereka serasa dihempas angin dahsyat hingga kejang-kejang. Maka Rasulullah Saw bersabda :

“Dinginkan air dalam kantung kulit (syinaan), kemudian siramkan kepada mereka pada waktu antara dua adzan”.

Abu Ubaidah menandaskan bahwa mereka dengan sigap mendinginkan air dalam syinaan (kantung kulit).

Rasulullah Saw. menyebutkan syinaan (kantung kulit) itu adalah tempat minum sejenis ghirbah. Rasulullah Saw. menyebut kantong kulit untuk tempat mendinginkan air, bukan gentong tanah liat, sebab kantong kulit memiliki daya serap yang lebih daripada tanah liat, sehingga airnya lebih dingin daripada air yang didinginkan di gentong tanah liat. Adapun maksud daripada dua adzan adalah antara adzan subuh dan iqamah. Iqamah dalam kaitan ini disebut juga adzan. Sebagian paramedis mengatakan bahwa terapi yang dituturkan Sang Rasulullah Saw. ini merupakan metode pengobatan terbaik, untuk menyembuhkan luka ginjal yang menyebabkan kejang-kejang. Peristiwa “kasus” (wabah) penyakit tersebut terjadi di tanah Hijaz, tepatnya di daerah atau negeri yang bertemperatur panas dan kering. Temperatur yang tinggi di tanah Hijaz dan tempat-tempat yang beriklim serupa membuat temperatur panas alami yang ada dalam perut penduduknya menjadi lemah.

Penyiraman air sebagaimana disebutkan dalam riwayat tersebut-yakni waktu dalam sehari- dapat mengumpulkan dan mengusung energy panas alami yang telah menyebar ke sekujur tubuh selama satu hari tersebut. Sehingga energi yang terkumpul tersebut akan menimbulkan energy letup. Energy yang terorganisir dari seluruh tubuh ini akan bereaksi ke bagian tubuh yang menjadi “sarang” penyakit, kemudian mendorong penyakit tersebut keluar, dan dengan idzin Allah Swt penyakit tersebut bisa dilenyapkan dari tubuh. Andaikan Hipocrates, Gellenius, dan para pakar medis lain menuliskan resep obat untuk penyakit di atas, niscaya para pakar medis kontemporer akan mengamini dan mempraktikkannya. Sehingga mereka akan kagum dengan pengetahuannya.


Sumber : Keajaiban penyembuhan cara Nabi – Ibnul Qayyim al-Jauziah